Tulisan di blog ini lama-lama semakin
panjang saja, tak sekilas ataupun sekelebat lagi. Seharusnya memang sudah aku
tempatkan sendiri tulisan-tulisan yang panjang di suatu tempat rahasia. Namun
serahasia apapun tetap akan terlacak oleh detektif bernama google! Dasar google
pemegang berbagai kartu AS seseorang di jagat maya ini.
Entah lah, mungkin memang aku cuma ingin
menulis di blog ini, siapa peduli tulisan panjang atau pendek? toh siapa juga
yang mau baca blog yang tak terlalu penting ini. Ah, tapi tak boleh selalu
berprasangka buruk begini! Ya sudah, biarkan aku bercerita saja.. break the boundary line!
...............................
Sore tadi, ketika aku masih berkutat
dengan angka-angka laknat dari hitungan rangka baja yang tak mempunyai rasa
seni sama sekali ini, tiba-tiba aplikasi chatting
gratis di ponsel nokia lumiaku (selanjutnya aku namai luminten) yang bernama whatsapp memunculkan sebuah notifikasi,
sesuatu yang sangat jarang terjadi akhir-akhir ini. Entah karena
teman-teman yang sering menghubungiku masih terlampau sibuk atau mungkin aku
yang sedang menghindar dari dunia per-chatting-an
itu karena suatu alasan. Agak melankolis memang. Tapi kali ini aku cukup kaget
karena yang menge-chat-ku bukan seseorang
biasa.
Mengenai orang yang tak biasa tersebut, aku
kenal dia beberapa bulan yang lalu ketika aku dan dia dipertemukan dalam sebuah
acara traveling berkemasan wisata ala
backpacker. Saat itu aku simpati
kepadanya dan menaruh sedikit kekaguman dengan tigkah lakunya, itu menurut
pengamatanku dari jauh karena aku tak punya nyali untuk sok pedekate. Saat pulang dari acara tersebut sebenarnya aku punya
kesempatan untuk memulai sebuah percakapan, karena ternyata aku dan dia, juga segelintir
temannya, pulang dari Bogor ke Lebak bulus menggunakan bus yang sama. Ketika
mulai masuk bus aku biarkan dia duduk terlebih dahulu agar kemudian aku bisa
duduk di sampingnya atau minimal di dekatnya..hahaha. Dan akhirnya aku benar-benar duduk didekatnya! Aku pun lalu
memulai perbincangan seiring dengan bus yang mulai berjalan pelan meninggalkan
terminal baranang siang. Namun apa yang terjadi? Dia menanggapiku seadanya,
seperlunya bahkan kalo perlu tak usah menanggapi. “mungkin dia sedang capek,
ngantuk setelah berjalan-jalan ria” pikirku dengan positif thinking. Sampai dia turun dari bus tak pernah terjadi percakapan
yang hangat dan berkesan diantara kami. Namun, aku selalu percaya bahwa jika kami
memang berjodoh pasti kami akan bertemu lagi. Terbukti! Sebulan kemudian kami
bertemu via aplikasi chatting gratis
yang sama, Whatsapp. Bahkan kami
kemudian sangat akrab.
Keakraban berjalan beberapa bulan, bukan
hanya lewat dunia maya saja tapi juga sudah merambah ke kenyataan, alias kopi
darat. Dan dari keakraban itu aku tahu beberapa karakternya. Bagiku, dia adalah
tokoh kartun animasi yang penuh dengan imajinasi dan terkadang imajinasiku yang
kuanggap khayalan kahyangan ini ternyata masih ada yang lebih abstrak lagi. Dan
sejujurnya, aku sangat kagum. Bukan hanya imajinasinya saja yang sedalam dasar
laut tapi cara berpikir dan sudut pandangnya juga diluar kelaziman, tentunya
dalam artian positif, walaupun kadang sesekali agak liar..hehe. Dan untuk kedua
hal yang kusebut tadi lagi-lagi membuatku terkagum. Yang jelas, dia adalah perempuan
yang sangat spesial dan mempesona menurutku diluar campur tangan urusan hati
dan perasaan.
“Bagaimana jika hatimu sudah ikut bermain
Santa? Apa yang kamu bisa nilai dari aku?” ujarnya yang aku karang sendiri
dalam otakku. Maka aku menjawab pertanyaan itu, “Aku cuma ingin berterima kasih
pada Tuhan karena telah pernah mempertemukan kita”. Jawabanku ini memang terdengar
klise dan kalimat itu sering terdengar di beberapa sinetron atau ftv yang ndayu-ndayu. Namun, ini lah yang
benar-benar kurasakan. Aku belajar banyak hal darinya, dan kuyakin dia tak
pernah tahu apa yang sebenarnya dia ajarkan kepadaku. Mungkin lebih tepatnya
aku berguru secara imajiner dengannya.
Dia membawa perubahan yang cukup besar di
hidupku, salah satunya adalah kedekatanku dengan Tuhan yang akan ku jaga walaupun aku sudah tak
akrab lagi dengannya. Salah duanya yaitu kemauanku untuk menulis lagi dan
berbagi cerita yang kebiasaan ini telah setahun lebih kutinggalkan. Untuk hal
ini akhirnya aku menemukan satu blog sebagai inspirasi utamaku dan mempengaruhi
gaya tulisanku ini. Oiya, imajinasi, sudut
pandang dan cara berpikirnya adalah hal yang paling sering ku jadikan referensi
dalam memandang seorang perempuan, namun bukan dengan tujuan
membanding-bandingkan. Masih banyak hal yang membuatku sadar akan sebuah makna yang
tadinya selalu kalah dengan egoku, tapi tak bisa kuceritakan disini.
Dia memang bukan Karl max yang teori
sosialis komunisnya jadi kitab suci ilmu pemerintahan dan politik seluruh
perguruan tinggi dunia. Pun juga bukan seorang siddharta yang dengan ajaran mahayana-nya
membuat para bodhisattva rela
meninggalkan hal berbau duniawi demi menuju ke nirwana dan menjadi budha
sejati. Dia hanyalah seorang merida yang pemberani, berani menghadapi dunia
yang penuh ketidakpastian, berani melakukan apapun demi orang-orang yang
disayanginya. So, always be brave
merida!!
...............................
Sampe ngelantur
sejauh ini ya aku menceritakan beberapa hal tentangnya?hahaha.. Memang tak ada habisnya membicarakan orang spesial itu. Padahal
awalnya aku hanya mau bercerita tentang kejadian tadi sore. Isi dari chat nya di luminten tadi sore itu yang
menjadikanku bertanya-tanya. Dan rasa keingintahuanku yang sangat besar ini (alias
kepo tingkat naudzubillah) membuatku berpikir keras. Sebenarnya, dia hanya
mengirim sebuah tautan berita online yang setelah saya buka isinya adalah
tentang festival wayang internasional. Lantas dimana keanehannya? Keanehannya adalah
ketika dia jarang menghubungiku via apapun dan tiba-tiba dia menge-share berita tentang wayang yang dia
tahu bahwa aku menyukai dunia perwayangan karena pernah aku ceritakan ini
kepadanya.
Ah, mungkin aku terlalu hiperbolik saja
tentang kejadian ini. Kejadian biasa saja yang aku hubung-hubungkan dengan
kejanggalan.
Tapi beberapa hari yang lalu aku pernah
membuat tulisan di blog ini tentang peran guyon
dalam kisah mahabharata. Apakah dia membaca tulisan itu? Entahlah, bahkan tak
satu setanpun tahu.
Yang jelas, aku sangat bersyukur pernah
mengenalnya, dan aku berharap Yang Maha akan menjodohkan kita bertemu lagi,
entah sebagai apa. Biarkan Dia yang merancangnya. Because, God is Greatest
Designer!
(Tulisan ini khusus untukmu, sebagai wujud
terima kasihku sebelum kamu benar-benar pergi membawa busur dengan anak panah
kebaikan, menunggang kuda untuk menyelamatkan orang yang kamu sayangi yang
sedang dalam bahaya. Selalu bersyukurlah, berbahagialah, dan berwarnalah. God
always loves you.)
E.B.
21 Agustus 2013
Ketika para sahabatku sedang terlelap
dalam dengkurannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar