Rabu, 21 Agustus 2013

Si Wanita Pemberani


Tulisan di blog ini lama-lama semakin panjang saja, tak sekilas ataupun sekelebat lagi. Seharusnya memang sudah aku tempatkan sendiri tulisan-tulisan yang panjang di suatu tempat rahasia. Namun serahasia apapun tetap akan terlacak oleh detektif bernama google! Dasar google pemegang berbagai kartu AS seseorang di jagat maya ini.

Entah lah, mungkin memang aku cuma ingin menulis di blog ini, siapa peduli tulisan panjang atau pendek? toh siapa juga yang mau baca blog yang tak terlalu penting ini. Ah, tapi tak boleh selalu berprasangka buruk begini! Ya sudah, biarkan aku bercerita saja.. break the boundary line!


...............................


Sore tadi, ketika aku masih berkutat dengan angka-angka laknat dari hitungan rangka baja yang tak mempunyai rasa seni sama sekali ini, tiba-tiba aplikasi chatting gratis di ponsel nokia lumiaku (selanjutnya aku namai luminten) yang bernama whatsapp memunculkan sebuah notifikasi, sesuatu yang sangat jarang terjadi akhir-akhir ini. Entah karena teman-teman yang sering menghubungiku masih terlampau sibuk atau mungkin aku yang sedang menghindar dari dunia per-chatting-an itu karena suatu alasan. Agak melankolis memang. Tapi kali ini aku cukup kaget karena yang menge-chat-ku bukan seseorang biasa.

Mengenai orang yang tak biasa tersebut, aku kenal dia beberapa bulan yang lalu ketika aku dan dia dipertemukan dalam sebuah acara traveling berkemasan wisata ala backpacker. Saat itu aku simpati kepadanya dan menaruh sedikit kekaguman dengan tigkah lakunya, itu menurut pengamatanku dari jauh karena aku tak punya nyali untuk sok pedekate. Saat pulang dari acara tersebut sebenarnya aku punya kesempatan untuk memulai sebuah percakapan, karena ternyata aku dan dia, juga segelintir temannya, pulang dari Bogor ke Lebak bulus menggunakan bus yang sama. Ketika mulai masuk bus aku biarkan dia duduk terlebih dahulu agar kemudian aku bisa duduk di sampingnya atau minimal di dekatnya..hahaha. Dan akhirnya aku benar-benar duduk didekatnya! Aku pun lalu memulai perbincangan seiring dengan bus yang mulai berjalan pelan meninggalkan terminal baranang siang. Namun apa yang terjadi? Dia menanggapiku seadanya, seperlunya bahkan kalo perlu tak usah menanggapi. “mungkin dia sedang capek, ngantuk setelah berjalan-jalan ria” pikirku dengan positif thinking. Sampai dia turun dari bus tak pernah terjadi percakapan yang hangat dan berkesan diantara kami. Namun, aku selalu percaya bahwa jika kami memang berjodoh pasti kami akan bertemu lagi. Terbukti! Sebulan kemudian kami bertemu via aplikasi chatting gratis yang sama, Whatsapp. Bahkan kami kemudian sangat akrab.

Keakraban berjalan beberapa bulan, bukan hanya lewat dunia maya saja tapi juga sudah merambah ke kenyataan, alias kopi darat. Dan dari keakraban itu aku tahu beberapa karakternya. Bagiku, dia adalah tokoh kartun animasi yang penuh dengan imajinasi dan terkadang imajinasiku yang kuanggap khayalan kahyangan ini ternyata masih ada yang lebih abstrak lagi. Dan sejujurnya, aku sangat kagum. Bukan hanya imajinasinya saja yang sedalam dasar laut tapi cara berpikir dan sudut pandangnya juga diluar kelaziman, tentunya dalam artian positif, walaupun kadang sesekali agak liar..hehe. Dan untuk kedua hal yang kusebut tadi lagi-lagi membuatku terkagum. Yang jelas, dia adalah perempuan yang sangat spesial dan mempesona menurutku diluar campur tangan urusan hati dan perasaan.

“Bagaimana jika hatimu sudah ikut bermain Santa? Apa yang kamu bisa nilai dari aku?” ujarnya yang aku karang sendiri dalam otakku. Maka aku menjawab pertanyaan itu, “Aku cuma ingin berterima kasih pada Tuhan karena telah pernah mempertemukan kita”. Jawabanku ini memang terdengar klise dan kalimat itu sering terdengar di beberapa sinetron atau ftv yang ndayu-ndayu. Namun, ini lah yang benar-benar kurasakan. Aku belajar banyak hal darinya, dan kuyakin dia tak pernah tahu apa yang sebenarnya dia ajarkan kepadaku. Mungkin lebih tepatnya aku berguru secara imajiner dengannya.

Dia membawa perubahan yang cukup besar di hidupku, salah satunya adalah kedekatanku dengan Tuhan  yang akan ku jaga walaupun aku sudah tak akrab lagi dengannya. Salah duanya yaitu kemauanku untuk menulis lagi dan berbagi cerita yang kebiasaan ini telah setahun lebih kutinggalkan. Untuk hal ini akhirnya aku menemukan satu blog sebagai inspirasi utamaku dan mempengaruhi gaya tulisanku ini. Oiya, imajinasi, sudut pandang dan cara berpikirnya adalah hal yang paling sering ku jadikan referensi dalam memandang seorang perempuan, namun bukan dengan tujuan membanding-bandingkan. Masih banyak hal yang membuatku sadar akan sebuah makna yang tadinya selalu kalah dengan egoku, tapi tak bisa kuceritakan disini.

Dia memang bukan Karl max yang teori sosialis komunisnya jadi kitab suci ilmu pemerintahan dan politik seluruh perguruan tinggi dunia. Pun juga bukan seorang siddharta yang dengan ajaran mahayana-nya membuat para bodhisattva rela meninggalkan hal berbau duniawi demi menuju ke nirwana dan menjadi budha sejati. Dia hanyalah seorang merida yang pemberani, berani menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian, berani melakukan apapun demi orang-orang yang disayanginya. So, always be brave merida!!

...............................


Sampe ngelantur sejauh ini ya aku menceritakan beberapa hal tentangnya?hahaha.. Memang tak ada habisnya membicarakan orang spesial itu. Padahal awalnya aku hanya mau bercerita tentang kejadian tadi sore. Isi dari chat nya di luminten tadi sore itu yang menjadikanku bertanya-tanya. Dan rasa keingintahuanku yang sangat besar ini (alias kepo tingkat naudzubillah) membuatku berpikir keras. Sebenarnya, dia hanya mengirim sebuah tautan berita online yang setelah saya buka isinya adalah tentang festival wayang internasional. Lantas dimana keanehannya? Keanehannya adalah ketika dia jarang menghubungiku via apapun dan tiba-tiba dia menge-share berita tentang wayang yang dia tahu bahwa aku menyukai dunia perwayangan karena pernah aku ceritakan ini kepadanya.

Ah, mungkin aku terlalu hiperbolik saja tentang kejadian ini. Kejadian biasa saja yang aku hubung-hubungkan dengan kejanggalan.

Tapi beberapa hari yang lalu aku pernah membuat tulisan di blog ini tentang peran guyon dalam kisah mahabharata. Apakah dia membaca tulisan itu? Entahlah, bahkan tak satu setanpun tahu.

Yang jelas, aku sangat bersyukur pernah mengenalnya, dan aku berharap Yang Maha akan menjodohkan kita bertemu lagi, entah sebagai apa. Biarkan Dia yang merancangnya. Because, God is Greatest Designer!








(Tulisan ini khusus untukmu, sebagai wujud terima kasihku sebelum kamu benar-benar pergi membawa busur dengan anak panah kebaikan, menunggang kuda untuk menyelamatkan orang yang kamu sayangi yang sedang dalam bahaya. Selalu bersyukurlah, berbahagialah, dan berwarnalah. God always loves you.)
E.B.
21 Agustus 2013
Ketika para sahabatku sedang terlelap dalam dengkurannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar