Senin, 30 September 2013

Meler!



Sudah berlembar-lembar tisu kuhabiskan hari ini
Namun lendirku tak juga puas berkejaran menangkap udara
Sudah kukeluarkan mereka dengan paksa dan kubuang di wastafel
Namun jumlahnya tak kunjung berkurang, selalu datang dan datang lagi
Sudah kumaki dan kuhujati lendirku dengan murka dewa
Namun Mekera malah bertambah senang dan bahagia


Ohhhhh Umbelku………,
kalian sungguh bandel!
Kalian tak tahu aku tersiksa seharian?!
Gara-gara kalianlah Hemoglobinku bersusah payah mengikat oksigen! Dasar!

Dear Neptunus



Hei Nus!


Aku mau sedikit mengadu kepadamu boleh kan?!

Jadi beberapa waktu yang lalu nomer yang tak kukenal telah menelponku lewat si Klenthik. Dan nampaknya itu nomer Jakarta, firasatku sih itu nomer kantor. Ternyata setelah kuangkat memang benar itu nomer kantor Nus! Kantor itu adalah sebuah perusahaan dari negeriku yang bertaraf internasional dan kebanyakan proyeknya berada didekat markas-markasmu lho Nus.

Memang dulu aku pernah apply ke perusahaan itu karena di perusahaan itulah passionku bisa tertampung tapi apply ku sudah lumayan lama dan aku juga sudah tak mengharapkannya lagi. 

Nhah, akhirnya aku penuhi panggilan mereka untuk interview di markas besarnya. Bukannya diberi gambaran tentang kehebatan perusahaanya tapi mas-mas gendut yang interview aku justru malah menggambarkan betapa susah dan mengerikannya bekerja di didekat markasmu. Lhah, aku jadi kelabakan dong. Bimbang menghantuiku Nus. Kalau dari upah aku yakin menggiurkan tapi kenyamanan itu lho Nus, jadi berkurang. 

Di perusahaan sekarang memang nyaman betul. Kerja cuma duduk-duduk, Mau berangkat jam berapa saja tak ditegur, ijin kapan saja bisa, nambah cutipun tak masalah. Kalau di perusahaan itu semua bisa lenyap Nus! Aku bisa jadi budak suku kulit putih dari negeri seberang. Juga aku bisa tersengat energi si Bathara Surya setiap hari! Duh…. 

Tapi yang aku senangi selain upah dan tertampungnya passionku, aku juga bisa semakin dekat dengan markasmu walaupun cuma di pintu gerbangnya saja. Toh aku juga belum berani untuk hanya mengetuk pintu gerbangmu. Mungkin sesekali latihan memahami lingkungan dan udaramu bisa kali ya agar suatu saat aku bisa mengobrak-abrik singgasanamu!... hahaha


Jadi bagaimana Nus baiknya? Kamu lebih setuju aku bertahan atau aku melanglang buana lagi dan mendekatimu?



Eh bentar-bentar…. Tapi Kamu punya cabang markas di Negeri Burma kan Nus???!!

Sabtu, 28 September 2013

Baca Tulis

Semangat membacaku memang sedang turun,
Terperkosa oleh energi menulisku yang begitu membirahi.
Biarlah saja.....
Biarkan energi menulisku berorgasme sesukanya.

Rabu, 25 September 2013

Doa untuk Penyair

Maka muliakan mereka yang menyairkan sajak-sajaknya Tuhan...
Tolong jaga mereka dari kepunahan di muka bumi..
Karena mereka sedang merangkai keindahanMu dan ciptaanMu..

Minggu, 15 September 2013

Tuhan

Tuhan..

Kujalankan dharma ku sesuai petunjuk-Mu..

Kubaktikan diriku untuk Menghamba hanya kepada Mu..

Kusujudkan kepalaku serendah mungkin sebagai wujud penghambaan tertinggi atas Mu..

Kulakukan segala ibadahku dengan penuh harapan akan ridho Mu..

Kuikhlaskan semua sakit, perih, haru, dan senyum atas segala ketetapan Mu..

Kuucapkan hamdu atas apapun pemberian Mu..

Terima kasih Tuhan,

Perhatian Mu telah menjaga kalbuku

Dan kasih sayang Mu sungguh mencukupkanku.

(Merekam sajak #2)

Rabu, 11 September 2013

Merekam Sajak

Sejak 24 tahun aku dilahirkan, baru kali ini lah aku membuat tulisan yang mungkin semacam sajak tanpa rima yang jelas. Entah disebut apakah ini, aku hanya ingin menuliskannya saja. Deru mesin komputerku yang setara dengan umur anak kelas 1 SD serta seri windowsnya yang tak kalah tua dengan durasi presiden SBY berkuasa, telah mengiringiku membuat tulisan yang seketika muncul ini kemudian aku rekam sejenak di notepad Luminten. Inilah Yang aku maksud. Merekam sajak!

                                                           .......................................


Jika jalanmu penuh dengan semak belukar yang rimbun
maka akan aku cabut dan bersihkan semua itu dengan tanganku sendiri

Jika jalanmu tertutup dengan bongkah batu yang besar
maka akan aku dorong itu sekuat tenaga dengan tanganku sendiri

Jika jalanmu penuh dengan sekumpulan kera-kera usil yang kelaparan
maka akan aku usir dengan terikanku sendiri

Pun jika sungai besar telah memutuskan jalanmu hingga engkau kehilangan asa
maka akan aku buatkan jembatan untukmu dengan tanganku sendiri

Selalu akan kumudahkan jalanmu

Berjalanlah terus tanpa terlalu banyak menoleh ke belakang
Pondok kebahagiaanmu semakin dekat engkau gapai

Dan aku cukup mengawasimu dari seberang sini saja
Tersenym melihat polahmu
Terharu merasakan kebahagiaanmu


(thanks for this inspiration, i wont get anything if i never met you)
Merekam Sajak #1



Minggu, 01 September 2013

visi dan misi


Jika aku tak kaya raya bak raja diraja pun tak apa

Jika aku tak punya kekuasaan atas sesuatu pun tak apa

Jika aku tak hidup dalam istana marmer pun tak masalah

Aku cuma ingin bersyukur

Aku cuma ingin bisa selalu berbahagia dalam hidup

Aku ingin menjadi warna bagi diriku sendiri dan orang lain.